SHARE TO :

Penyebab, Gejala Penyakit Tuberkulosis Dan Pengobatannya

Diposkan oleh : Hendri Liu pada 4:09 am tanggal February 18, 2017

Penyebab, Gejala Penyakit Tuberkulosis Dan Pengobatannya – Tuberkulosis (TB) yang lebih dikenal dengan singkatan TBC, adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini bisa menular, dan ditularkan dari penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. TB paling sering menyerang paru-paru dengan gejala klasik berupa batuk, berat badan turunm tidak nafsu makan, demam, keringat dimalam hari, batuk berdarah, nyeri dada, dan lemah. Jenis batuk juga bisa berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari.

Saat tubuh kita sehat, sistem kekebalan tubuh dapat memberantas basil TB yang masuk ke dalam tubuh. Tapi, sistem kekebalan tubuh juga terkadang bisa gagal melindungi kita. Basil TB yang gagal diberantas sepenuhnya bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB. Kondisi ini dikenal sebagai Tuberkulosis laten. Selain tidak mengalami gejala, pengidap Tuberkulosis laten juga tidak menular. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia mengidap TB laten. Sementara TB yang sudah berkembang, merusak jaringan paru-paru, dan menimbulkan gejala dikenal dengan istilah Tuberkulosis aktif. Sangat penting agar TB jenis ini diobati karena termasuk penyakit menular.

Penyebab, Gejala Penyakit Tuberkulosis Dan Pengobatannya Secara Medis

tuberkulosis

Pada orang-orang dengan sistem imun lemah (anak-anak, manula, penderita AIDS) dapat timbul radang paru hebat. Basil Tb memperbanyak diri di dalam makrofag dan benjolan-benjolan bergabung menjadi infiltrat yang akhirnya menimbulkan rongga (caverna) di paru-paru. Bila kemudian terjadi hubungan antara paru-paru dan cabang bronchi, maka terjadilah TBC terbuka (Tuberkulosis cavernosus) dengan adanya basil di dahak (sputum). TBC terbuka ini berbahaya sekali. Walaupun hanya bercirikan batuk kronis, tetapi bersifat menular. Penderita dengan kondisi seperti ini merupakan sumber merajalelanya TBC dengan mendadak disekelompok masyarakat. Hal ini terjadi hanya pada lebih kurang 10% dari semua infeksi.

Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Basil ini menyebar di udara melalui semburan titik-titik air liur dari batuk pengidap Tuberkulosis aktif. Meski demikian, penularan Tb tidaklah semudah penyebaran pilek atau flu karena umumnya membutuhkan beberapa waktu. Makin lama seseorang terpapar atau berinteraski dengan penderita TB, risiko penularan akan makin tinggi. Misalnya, anak yang tinggal serumah dengan pengidap Tb akan memiliki risiko tingi untuk tertular.

Risiko penularan TB juga berpotensi meningkat bagi kelompok-kelompok orang tertentu, di antaranya adalah :

– Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.
– Petugas medis yang sering berhubungan dengan pengidap TB.
– Manula serta anak-anak.
– Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya pengidap HIV, diabetes, kanker, serta orang yang kekurangan gizi.
– Pengguna obat-obatan terlarang.
– Orang yang kecanduan minuman keras.
– Pengguna tembakau, misalnya dalam bentuk rokok. Hampir 20 persen kasus TB dipicu oleh merokok.

Selain paru-paru, basil TB juga bisa menyerang tulang, otak, sistem pencernaan, kelenjar getah bening, sistem saluran kemih, serta sistem saraf.

Pengobatan Penyakit Tuberkulosis

Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika diobati dengan baik. Langkah pengobatan yang digunakan adalah pemberian antibiotik yang harus dihabiskan oleh pengidap Tb selama jangka waktu tertnetu sesuai resep. Jenis-jenis antibiotik yang digunakan umumnya adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat-obat lain, antibiotik untuk TB juga memiliki efek samping, terutama rifampicin, isoniazid, dan ethambutol. Rifampicin dapat menurunkan keefektifan alat kontrasepsi yang mengandung hormon. Sementara ethambutol dapat memengaruhi kondisi penglihatan pengidap. dan isoniazid berpotensi merusak saraf.

Sejumlah efek samping lain dari obat-obatan TB meliputi mual, muntah, penurunan nafsu makan, sakit kuning, urine yang berwarna gelap, demam, ruam, serta gatal-gatal pada kulit. Masa penyembuhan TB ini berbeda-beda pada tiap pengidap tergantung pada kondisi kesehatan pengidap serta tingkat keparahan TB yang dialami. Kondisi pengidap umumnya akan mulai membaik dan TB berhenti menular setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 minggu. Tetapi memastikan kesembuhan total, pengidap TB harus menggunakan antibiotik yang diberikan dokter selama 6 bulan.

Apabila pengidap tidak meminum obat sesuai resep dokter atau berhenti meminumnya sebelum waktu yang dianjurkan, bakteri TB bisa tidak hilang sepenuhnya meski pengidap merasa kondisinya sudah membaik. Infeksi TB yang diidap juga berpotensi menjadi resistan terhadp antibiotik.. Jika ini terjadi, Tb akan menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati sehingga masa penyembuahnnya pun akan jauh lebih lama. Itulah penjelasan mengenai penyakit Tuberkulosis dan cara pengobatannya. Untuk menyembuhkan Tuberkulosis, anda juga harus menerpakan pola hidup yang sehat untuk membantu penyembuhan lebih berhasil. Semoga bermanfaat.

SHARE TO :